Follow Us @catanti

Minggu, 18 Agustus 2019

INFUSE WATER AKA AIR KOBOKAN

Agustus 18, 2019 0 Comments

gambar ini terinspirasi dari beberapa bule yang sering makan di pecel lele terkadang minum air kobokan. That simple perbedaan kebudayaan.
Dahulu kita tidak mengenal apa itu infuse water dan semenjak ada social media infuse water jadi trending kesehatan saat ini. Simpel hanya bahan2 dapur yang diberi air lalu di endapkan semalaman, padahal kita sudah punya infuse water dengan kearifan lokal namun tidak diminum yaitu air kobokan.
Nah air kobokan ini sering di jumpai di rumah makan atau warung penyetan sebagai air cuci tangan setelah makan menggunakan tangan (puluk).
namun sayangnya para bule ternyata ada yang mengira bahwa ini adalah minuman. Padahal air koobokan biasanya menggunakan air mentah yang diberi lemon.

cara pembuatan air kobokan atau infuse water KW
1 buah lemon atau jeruk nipis di iris tipis2 mendatar...
sebaskom kecil air
lalu masukan irisan lemon kedalam air tersebu.
sajikan bersamaan dengan nasi dan lauk pauk
:D

so simple right

Jumat, 28 Juni 2019

RESEP CIRENG SIMPLE

Juni 28, 2019 0 Comments
RESEP CIRENG SIMPLE

BAHAN-BAHAN : (Sedikit mdifikasi dari gambar yaa :D)
3 sendok makan Tapioka
1 sendok makan minyak
sejumput garam, merica, masako
1 helai daun bawang.
air secukupnya
2 siung bawang putih

Cara membuat :
campur bahan bahan diatas kecuali daun bawang
lalu panaskan hingga mengental seperti slime, setelah itu tambahkan daun bawang dan beri tepung tapioka lagi.
uleni hingga Kalis.
bentuk adonan bulat pipih. 
jika sudah panaskan minyak. 
Lalu di Goreng .. .
.
******
Saran Penyajian:
cireng goreng ditambah saos bangkok yg bisa dibeli di pasar :D *selamat mencoba

Sabtu, 12 Januari 2019

Berdialog di Bandung

Januari 12, 2019 0 Comments

Hallo...
lama tak bersuara diriku.

apa kabarnya?
aku harap dalam keadaan sehat selalu.
Bulan lalu ada 2 perjalanan yang menegangkan bagiku.
Menegangkan karena baru pertama kali sendiri ke tempat jauh yang baru, tanpa teman atau tanpa kenalan.

Awal November 2018, Bandung menjadi saksi bisu perhelatan di kepalaku.
Yaa.. aku pergi ke Bandung sendiri.
Dari kota kecil yang bernama Pare, cukup 12 jam lamanya perjalanan ku tempuh menggunakan kereta yang kususuri jalan demi jalan. untuk apa?
untuk mencari jati diri, dan untuk menjemput keajaiban.
bukan asal asalan aku pergi ke tempat tersebut.
alasan yang pertama adalah untuk memenuhi janji ku pada orang tua dalam mengikuti seleksi CPNS yang diperebutkan seluruh warga Indonesia. Dan alasan ke duaku adalah aku ingin melarikan diri untuk berdialog dengan diriku.

cukup sering kita menasehati dan berdialog dengan orang lain, namun lupa dengan berdialog dengan diri sendiri.
ironis memang, sering kali kita berusaha membahagiakan orang lain tapi lupa dengan kebahagiaan diri sendiri.

Banyak teman menanyakan keputusanku untuk pergi kesana, padahal jawa timur masih bisa menampung orang sepertiku.
"can , kok jauh e d bandung? opo'o? ga ambil d jatim aja?"
ini sudah keputusanku, dan pada saat itulah ku memasrahkan diriku pada Allah SWT.
aku hanya yakin, disetiap niat baik kita Allah akan selalu melindungi dan memberikan jalan.

sekali lagi, aku bersyukur dilahirkan di era yang penuh dengan digitalisasi. Tanpa membuang banyak waktu dan tenaga hanya pada satu layar ponsel aku sudah dapat memperkirakan perjalananku.
dari mulai booking tiket kereta pulang dan pergi, Penginapan, trasportasi selama dibangung dan untuk memenuhi kebutuhan makan ku. Satu ponsel kecil merek Oppo a39 menjadi penolong terbesarku.
Alhamdulillah aku generasi digital, generasi serba instan yang sering dibilang banyak orang generasi micin. lol XD

Kembali ke cerita perjalananku d bandung.
aku izin selama kurang lebih 3 hari untuk tidak masuk kerja, alhamdulillah bos baik bangett. dan langsung memberikan ijin.
berangkat siang sampai disana sekitar pukul 03.00 subuh.
banyak orang yang lalu lalang didepanku,
 tanpa pikir panjang mushola menjadi tempat awal persinggahanku.
sambil menunggu datangnya fajar aku habiskan 1 jam ku d mushola dengan beberapa ibuk ibuk yang turut singgah di sebelahku. Karena mushola mulai ramai, aku pindah di d bangku yang berderet deret tempat menunggu kereta datang.
jika kalian sering menaiki kereta pastilah tau bangku yang ku masksud.
duduk sendiri d bangku paling pojok, sambil merebahkan diri dan menunggu datangnya fajar pagi hari.
pop mie tanggung seharga 6000 rupiah menjadi pilihan sarapanku.

dek, dari sini ke cicaheum brp kilo ya?
ibu ibu separo baya yang dari tadi duudk di sebelahku bertanya pada ku.
"maaf bu, saya juga tidak tahu karena bukan orang sini"
"oh iya udah dek.."
entah sejak kapan percakapan singkat itu berlanjut hingga ibu tersebut bercerita tent and keluarga dan anaknya. 
Beliau bercerita bahwa anaknya lagi sakit dan menginginkan ibunya kembali ke rumah. Jadi si Adek ini sekolahnya di pondok, si ibu aingle parent dan harus mencari rizky seorang diri di Bekasi. 
Hanya berbekal kenekatan dan uang pas pasan ibu ini segera menyusul menemui anaknya. Oiya kami bertemu di stasiun kiaracondong, si ibu mengira jika naik kereta dari stasiun kiara condong akan lebih cepat namun sayangnya tiket kereta pada hari itu sudah terjual habis. 
Nelangsaaa... :'(
Dan Tiba tiba ada telp masuk, aku rasa dari anak beliau, dan benar sajaa.. 
hanya kata "iyaa ibuk sek d cari telor, d bekasi jagain adeknya"
ndredees miliii hati ini ya allah.

begitu hebat perjuangan ibu ibu, dan aku ingat ibuku. Apakah sebagai anak aku sudah berbakti? apakah sebagai anak aku sudah membahagiakan beliau? 
mungkin sampai kapanpun tidak pernah bisa membalas seluruh kebaikan ibuuuk kuu.. 

ini cerita perlajanan ku, cerita yang aku selalu temui d jalan, dengan orang yg tak pernah ku kenal sebelumnya. 
akan ada banyak cerita lain yg dapat ku petik dari setiap perjalananku. 
nb: muka gua blm mandi niiiiiiiiiihhh udah kek zombi

Kamis, 29 November 2018

Klenteng Tjo Hwie Kong Kediri

November 29, 2018 0 Comments


  Klenteng Tjo Hwie Kong Kediri
klenteng Tjo Hwi Kong

Klenteng ini adalah sebuah klenteg Tri Dharma, yan artinya 3 ajaran. Terletak di Jl. Yos Sudarso no 148 Kediri, Jawa Timur. Kita akan menemukan bangunan besar berwarna merah ini setelah melewati pusat oleh-oleh kota Kediri yang bertepatan pula di jalan Yos Sudarso. Bangunan yang begitu mencolok berwarna merah menyala dengan aksen kuning yang menyerupai gambar batu bata pada tembok depan gapura dengan huruf bertuliskan “Yayasan Tri Dharma Tjoe Hwie Kiong“ dan hiasan guci serta bunga berbentuk lidah api ini menjadi penanda akan klenteng ini. Klenteng ini sebenarnya tempat yang tidak dibuka untuk umum, yang hanya di peruntukan bagi penganut ajaran tri dharma saja, namun karena ini juga merupakan destinasi wisata yang di tonjolkan di Kediri , saya meminta izin kepada satpam yang bertugas untuk mengambil beberapa gambar untuk tugas kuliah, beruntung sekali saya di perkenankan masuk untuk memfoto klenteng tersebut, namun ada temoat yang tidak diperbolehkan untuk diambil foto yaitu tempat ibadah ajaran tri dharma. 



Memasuki halaman klenteng terlihat patung burung Hong, atau semacam burung Phoenix, berukuran besar dengan ukiran yang sangat indah. Di sebelah burung Hong terdapat patung naga emas yang tidak kalah besarnya , patung tersebut menjadi penjaga regol kelenteng Tjoe Hwie Kiong dan di sebelah kiri dan kanan bangunan utama kelenteng yang di gunakan sebagai tempat ibadah terdapat menara pembakar kertas sembahyang atau disebut dengan kim lo. Dari luar kita dapat melihat orang-orang untuk beribadah, Tri Dharma sendiri merupkan tempat ibadah 3 ajaran yaitu ajaran Budha, Khonghucu, Tau maupun hindu. Sayangnya saya tidak dapat memfoto kegiatan ibadah yang terdapat di bangunan utama kelenteng sehingga saya hanya melihat beberapa bangunan di luar bangunan utama.
Ada sekitar 4 bangunan yang ada di kelenteng ini, yang pertama bangunan untuk ibadah, yang kedua ada di sebelah barat menghadap keselatan ada bangunan yang bertuliskan “Mitra Graha”, fungsi utama bangunan ini saya kurang tau dikarenakan saya melihat hanya sebuah ruangan kosong.
 Bangunan yang ketiga berdekatan dengan sungai brantas sedikit kecil dari bangunan utama dan bangunan kedua merupakan rumah tandu “Thien Shang Sheng Mu” yang di bangun pada tanggal 06 januari 2004 (15-12-2553 IMLEK) oleh PT.Wonojati Wijoyo Kediri. Bangunan ini tetap di sekeliling nya terdapat gambar naga dan berwarna merah serta terdapat ruangan berkaca yang di hiasi oleh tirai berwarna kuning.
Di sebelah bangunan ini terdapat patung Dewi Quan’in yang sangat besar menghadap ke barat tepat di sebelah sungai Brantas, bila kita hendak melihatnya kita harus menaiki tangga berwarna putih yang berada di kanan kiri patung tersebut. Di tengah patung dewi Quan’in terdapat relief naga yang tidak berwarna dan hanya berwarna putih.
Dan bangunan terakhir yang dibangun oleh PT. Gudang Garam Tbk pada tanggal 24 mei 2011, bangunan ini sedikit lebih besar daripada bangunan ke dua dan ketiga, fungsi bangunan ini sendiri saya tidak mengetahuinya karena keterbatasan informasi dan memang kelenteng ini yang tidak di buka untuk umum membuat saya memakluminya.





Sabtu, 20 Januari 2018

22 Tahun it's Okay

Januari 20, 2018 0 Comments
https://pixabay.com/

Ketika kau menuliskan kata" 22 Tahun yang harus dilakukan" di situs pencarian terbesar di dunia yaitu *GOOGLE, kurang lebih ada sekitar 579.000 kata yang dapat ditemukan dengan keyword seperti itu.

Banyak dari keyword itu menyebutkan bahwa umur 22 tahun merupakan awal bagi kesalahan, pembelajaran, kesuksesan, kekhawatiran dan kemandirian.

Di umur aku yang 22 tahun ini, kadang aku merasa bahwa masih seperti anak kecil dengan disisi lain aku merasa seperti orang dewasa. Entah ini sebuah transisi atau bagaimana, umur ini membuat diriku amat sangat khawatir, terlalu muda untuk membayangkan kehidupan sebenarnya, dan terlalu tua untuk lari dari kenyataan.

Disini pula aku ingin masih mengeksplore diriku, disisi lain aku juga ingin menggantungkan hidupku dengan orang lain. Rasa ambigu dan tidak percaya diri serta khawatir menyelimuti ketika di umur ini. Anggapan orang umur ini sudah siap untuk sukses dengan karir, namun dalam kenyataan kita masih try and eror untuk melakukan sesuatu yang kita anggap benar.

Mencoba sebaik mungkin bukan perkara mudah, terkadang orang lain menganggap apa yang kita lakukan itu salah dan harus sesuai dengan jalanya, kalau menuruti segala omongan orang kapan pula kita berkembang?

Di umur 22 tahun ini, mungkin banyak dari temanku yang sudah berkeluarga bahkan ibuku dahulu menikah umur 21 tahun.
Omongan tentang pernikahan, jodoh selalu menyelimuti ketika sedang berada di dalam crowd orang terdekat, aku tau mereka peduli dan ingin yang terbaik bagiku atau bagi kita yang berumur 22 tahun, tak jarang hal itu membuat ku berfikir dua kali. What should i do?
jika jodoh saja belum ada apa harus memaksakan?

Banyak pula yang membandingkan, mungkin aku masih bersyukur dengan ketidak ada omongan yang terlalu menyakitiku dengan lingkungan yang lumayan tidak peduli. Aku menghargai lingkunganku, karena banyak teman yang seumuran denganku merasakan tekanan teramat ketika menjadi bahan perbincangan kalayak ramai di usia seperti ini.

ekspektasi orang lain:
22 tahun, bagi orang cukup untuk membangun sebuah rumah tangga.
22 tahun, cukup pula mendapatkan karir dan income yang lumayan.
22 tahun, sudah saatnya untuk berfikir dewasa.
22 tahun, waktu untuk menjadi orang lain yang sesuai dengan aturan masyarakat.

kenyataan diri sendiri :
22 tahun, bagiku merupakan awal untuk mengerti dunia. Setelah lulus dari sebuah instansi pendidikan
22 tahun, waktunya untuk try and eror
22 tahun, waktu untuk membuat kesalahan dan menemukan kebenaran
22 tahun, be my self confidence
22 tahun, Explore seluruh sumber daya yang ku punya.
22 tahun, masih butuh pemikiran seperti anak kecil
22 tahun, menemukan seseorang yang memang pantas. jika jodoh sudah datang bukan mustahil, jika belum tenang dunia tidak berakhir! 22 tahun menjadi titik awal perubahanmu.

Terdapat perbedaan dan kesenjangan antara harapan orang lain dengan kenyataan begitu curam, namun ingat paling penting adalah menjadi diri sendiri. Mungkin kamu akan dibawa ke sebuah tekanan dari lingkungan sekitar, namun ingat bahwa hidup adalah kamu dan yang menjalani dirimu. Jika tidak cocok dengan perkataan orang, diam dan abaikan.
mereka berhak berbicara, namun kamu juga berhak tidak mendengarkan.

22 tahun merupakan umur yang tanggung, menjadi dewasa belum cukup dan menjadi remaja bukan lagi.

Yang bisa kita lakukan hanya berusaha sebaik mungkin, tidak ada yang mendukung dan menolong pun tak masalah, karena kamu sudah 22 tahun.
Menjadi pribadi yang lebih mandiri lagi dan tidak terlalu memasukan ke hati serta berharap tinggi akan hasil akhir.

Jalani saja, hidup ini berjalan... yang berlalu biarlah berlalu, jangan menyesali apa yang telah lalu. Hidup ini ada di zona sekarang.
hilangkan rasa khawatir berlebihan dan sambutlah hidupmu penuh dengan suka cita, Karena kamu 22 tahun !

Saatnya melakukan kesalahan dalam batas Wajar

belajar lebih banyak, dan kerahkan kekauatanmu melebihi ekspektasimu.